“ LUCU ! “, itulah yang mungkin bisa dikatakan oleh orang-orang awam
setiap kali kita memulai TANGGAL SATU Ramadhan dan TANGGAL SATU Syawal,
lha bagaimana gak lucu itu kan pelajaran setiap tahun yang diulang-ulang
gak tau sampai kapan sampai kita bosen dan akhirnya kita bilang LUCU.
Lha
yang lebih lucu lagi, seluruh pakar yang katanya sangat kompeten duduk
di satu meja membahas MASALAH TANGGAL SATU yang jelas-jelas
sangat-sangat EXACT (Pasti) itu kok bisa hasilnya BEDA. Kalo anak TK
ditanya 1 x 1, pasti jawabnya tegas 1, lha kita ditanya 1 x 1 kok
jawabnya kondisional bisa 2 bisa juga 11, itu apa bukan namanya DAGELAN (
sandiwara ) ?
Nah ketika kita baru akan masuk tanggal 1
Ramadhan kita diuji intelektual kita untuk MEMILIH, kenapa ? karena
penentuan tanggal 1 Ramadhan itu jelas-jelas ILMU PASTI tapi sekarang
menjadi ILMU ABU-ABU. Disebut ILMU PASTI karena untuk menentukan tanggal
1 bulan apa saja, dari dulu sampai sekarang sudah ditemukan RUMUS untuk
menghitungnya dan ALAT untuk melihatnya, dari dulu sampai sekarang
TIDAK AKAN pernah meleset karena itu sudah disepakati secara
INTERNASIONAL, bukan hanya untuk menentukan tanggal satu saja,
menentukan saat ini disini JAM BERAPA dan diseluruh belahan dunia yang
lain JAM BERAPA itu saja sudah SANGAT AKURAT, apalagi saat ini kita
didukung dengan peralatan Astronomi yang SANGAT CANGGIH, lho kok bisanya
menentukan TANGGAL SATU Ramadhan hasilnya BEDA ? kok tanggal 25
Desember gak pernah beda ya ? ada apa gerangan ? ya pasti ada udang
dibalik Iwak Peyek ! he he he…
Disebut ILMU ABU ABU karena
tidak pernah terjadi perbedaan ketika kita menentukan HARI LIBUR
NASIONAL, maka ILMU yang jelas PASTINYA itu menjadi ABU-ABU karena ada
EGOISME KELOMPOK , AROGANSI KEPEMIMPINAN dan KEPENTINGAN POLITIK yang
bisa kita ringkas menjadi satu masalah yang kita sebut sebagai BELENGGU
KEJAMA’AHAN. Nah disinilah ketika kita SALAH PILIH tanggal 1 Ramadhan
maka dipastikan kita akan salah pilih disaat 1 Syawal nanti kalo kita
pake ILMU ABU-ABU.
Apa akibatnya ketika kita SALAH PILIH 1
Ramadhan, kita akan jatuh dalam sebuah PERBUATAN HARAM, harusnya hari
itu kita puasa tapi kita belum puasa dan harusnya hari itu kita Hari
Raya justri kita masih berpuasa.
Wah… ini kan makin MEMPERKERUH
SUASANA nih…, biarlah kita memulai puasa dengan KEYAKINAN kita
masing-masing, kan masing-masing kita PUNYA IMAM yang harus kita taati,
itu kan wilayah IMAM kita masing-masing, gak usahlah kita saling
menyalahkan, yang penting kita semua puasa jangan sampai gak ! itulah
alasan-alasan kita yang selalu ingin bertindak INSTAN dan MEMBEBEK saja
dalam urusan Agama tanpa mengoptimalkan FUNGSI AKAL sebagai karunia
terbesar dari Allah SWT.
Sahabat, mari kita jernihkan
sejenak hati kita lalu coba optimalkan sedikit Akal kita, untuk mengurai
‘Benang Kusut’ Ujian Tanggal Satu, karena kita akan MEMILIH SATU
JAWABAN yang memuaskan AKAL kita dan sesuai dengan PETUNJUK yang
diberikan oleh Allah SWT. Karena MEMILIH itu adalah KONSEKUENSI PRIBADI
bukan KONSEKUENSI JAMA’AH atau IMAM, karena kalo kita SALAH PILIH atau
melakukan DOSA itu ya tanggung jawab kita sendiri bukan tanggung jawab
Pemimpin kita atau Orang lain, coba analisis Ayat-Ayat ini :
“
Dan mereka semua akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah. Lalu
berkata para pengikut kepada pemimpinnya: "Sesungguhnya kami dahulu
adalah pengikut-pengikutmu. Maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari
azab Allah barang sedikit? Para pemimpin itu menjawab: "Seandainya Allah
memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami akan memberitahukan caranya
kepadamu. Kita ini sama saja, mau mengeluh atau bersabar. Sedikitpun,
kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." [QS. Ibrahim: 21]
“Dan
orang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang
yang berat dosanya memanggil (orang lian) untuk memikul dosanya itu,
tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun, meskipun (yang
dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat
kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azdab Tuhanya
(sekalipun) mereka tidak melihatNya. Dan barang siapa yang mensucikan
dirinya, sesungguhnya ia mensucikan untuk dirinya sendiri. Dan kepada
Allah lah kembali(mu)”. ( Q.S. QS. Fatir 18 )
“Dan
tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatanya (dosanya)
kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang berdosa tidak akan memikul
dosa orang lain” ( QS. al-Anam 164 ).
“
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan diminta pertanggung-jawabannya (masing-masing)”. [QS. Al Israa’: 36].
Jadi
dari ayat-ayat diatas kita DILARANG MEMBEBEK begitu saja kepada
siapapun (Ulama’, Kyai, Ustadz, Ajengan, Syeikh, Presiden) tanpa
terlebih dahulu kita MENCARI INFORMASI dengan mengoptimalkan AKAL dan
menelusuri PETUNJUK Al-Qur’an.
Baik Sahabat , mari kita urai ‘Benang Kusut’ Ujian Tanggal Satu itu……
Jika
secara keumatan tidak ada yang mampu menyelesaikan masalah ini, maka
umat Islam harus pandai-pandai mengambil hikmah secara pribadi, agar
kita tidak menjadi korban sia-sia. Dan, kita berharap, mudah-mudahan
Allah segera mengirimkan pemimpin yang memiliki kapabilitas dan
integritas yang bisa menyatukan umat, demi kemaslahatan bersama.
Bagaimanakah
caranya agar kita selamat secara pribadi dan tidak menjadi korban
kesia-siaan dari sebuah kelalaian ataupun ketidakpedulian? Tentu saja,
harus memiliki pengetahuan tentang kasus ini, sebagaimana diajarkan
dalam firman Allah di atas. Yang pertama, pahamilah kapan bulan Sya’ban
berakhir. Yang jika kita merujuk ke pendapat para pakar Astronomi dari
lembaga-lembaga berkompeten, hasilnya adalah sebagai berikut :
Menurut
ahli Ilmu Falak PBNU KH Slamet Hambali, sebagaimana dikutip oleh
website resmi PCNU Pekalongan, akhir Sya'ban 1433 Hijriyah jatuh pada
Kamis (19/7). Demikian pula Muhammadiyah malah sudah mengumumkan bahwa
akhir Sya’ban jatuh pada Kamis, 19 Juli 2012. Sedangkan, menurut pakar
Astronomi Boscha, Dr Ir Moedji Raharto, akhir bulan Sya’ban akan terjadi
pada Kamis, 19 Juli 2012, pukul 11.25 wib. Artinya, semua pihak
sebenarnya sepakat, bahwa hari Kamis, 19 Juli 2012 itu bulan Sya’ban
sudah berakhir, pada siang hari itu.
Masalahnya, karena
habisnya adalah siang hari, maka pada saat matahari terbenam ketinggian
bulan sabit sebagai penanda datangnya Ramadan masih berusia sekitar 6
jam, alias di bawah 2 derajat. Sehingga sangat mungkin tidak terlihat
oleh mata telanjang. Apalagi kalo dikuatkan dengan FAKTA adanya
informasi Team Rukyat yang MELIHAT HILAL secara kasat mata di beberapa
tempat.
Yang perlu kita pahamkan lebih lanjut adalah,
bahwa waktu sahur untuk berpuasa esok hari itu masih sekitar 10 jam
lagi. Kita mengamati datangnya bulan sabit sekitar jam 6 sore, tapi
waktu untuk berpuasa dimulai sekitar jam 4 pagi. Jadi, kalau pun jam 6
sore itu bulan belum kelihatan, sepuluh jam lagi pasti dia sudah sangat
tinggi di atas horison, berusia sekitar 16 jam. Karena, sebenarnya malam
itu Ramadan memang sudah datang..!
Maka, betapa sayangnya
jika bulan penuh rahmat yang sangat mulia ini tidak kita sambut
kedatangannya. Dan kita baru berpuasa esoknya pada tanggal 2 Ramadan.
Sementara, Allah pun sudah memerintahkan agar kita segera berpuasa
begitu bulan suci ini hadir. Kenapa kita mesti dibingungkan oleh bulan
sabit sore hari ya, padahal puasanya kan baru esok pagi, ya kan ? he he
he…..
Bahwa perbedaan ini sebenarnya bukan soal penetapan ‘awal
bulan’ Ramadan, melainkan penetapan ‘awal puasa’. Kalau soal awal bulan
Ramadan, secara teknis sudah sangat jelas. Bahwa ketika bulan Sya’ban
usai, seketika itu pula sudah masuk bulan Ramadan. Dalam penanggalan
Hijriyah, bulan Sya’ban adalah bulan ke-8, sedangkan Ramadan adalah
bulan ke-9.
Secara Astronomi, sudah pasti tidak ada jeda
antara Sya’ban dan Ramadan. Dan itu bisa langsung dicek di angkasa.
Yakni, Kamis pagi posisi bulan masih berada di sebelah kanan matahari.
Namun, sesaat setelah pukul 11.25, posisi Bulan sudah berada di kiri
matahari. Itu artinya, sudah memasuki fase baru, yakni Ramadan.
Sehingga
menjadi aneh, secara astronomi, ketika SEMUA PIHAK sepakat bahwa
Sya’ban sudah berakhir di KAMIS, 19 Juli 2012, tetapi 1 Ramadan
ditetapkan jatuh pada hari SABTU, 21 Juli 2012. Jangan heran kalau
lantas ada kawan saya yang bertanya: ‘’Kalau begitu hari JUM’AT, 20 Juli
2012 termasuk dalam bulan Sya’ban ataukah Ramadan, ataukah tidak punya
Bulan?’’ tanyanya sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Penetapan
seperti itu, sungguh tidak jelas. Dan membuat umat tambah bingung.
Harusnya dibedakan antara ‘awal bulan’ dengan ‘awal puasa’. Ramadan
sebagai bulan, sudah pasti telah masuk SESA’AT setelah ijtima’ (posisi
segaris antara Bulan-Matahari-Bumi ). Dan bisa langsung diamati di
angkasa dengan menggunakan peralatan astronomi, maupun simulasi metode
hisab. Karena tidak mungkin ada ‘HARI ANTARA’ di peralihan Sya’ban dan
Ramadan. Pilihannya hanya dua: masuk Sya’ban atau Ramadan.
Nah,
ketika sudah disepakati Sya’ban telah habis Kamis siang, maka siang itu
pula hilal sudah memasuki bulan Ramadan. Sehingga sore hari saat
matahari tenggelam ‘hilal Ramadan’ sudah berumur 6 jam. Memang tidak
akan terlihat oleh mata telanjang, saking tipisnya, tetapi, bulan
Ramadan sudah masuk.
Tinggal masalahnya: apakah akan
berpuasa hari Jum’at ataukah hari Sabtu. Ini sudah bukan wilayah
Astronomi atau Hisab Ilmu Falaq lagi, melainkan masalah fiqih ibadah
puasa. Disinilah sebenarnya perbedaan itu muncul. Ada yang berpatokan
pada hadits: “ jika hilal tidak kelihatan, maka genapkanlah “.
Sehingga, karenanya ada yang berpuasa Hari Sabtu. Namun hadits ini
menjadi sangat lemah untuk dipakai alasan karena dengan KACA MATA Ilmu
dan Teknologi TERKINI menjadikan HILAL itu PASTI-PASTI KELIHATAN.
Yang
lainnya berpendapat: karena bulan Ramadan sudah masuk, maka WAJIB
hukumnya untuk SEGERA berpuasa: “ Bulan Ramadan adalah bulan yang di
dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Dan berisi
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (kebaikan dan
keburukan). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa... “[QS. Al Baqarah: 185]. Atas dasar ini kita berpuasa Hari Jum’at.
Masalahnya
menjadi clear. Silakan kita memilih sesuai keyakinan kita
sendiri-sendiri. (tapi ingat, salah pilih resiko tanggung sendiri)
Kalo
perbedaan itu dijelaskan dengan cara demikian, masyarakat luas akan
bisa memahami dan menerima dengan lapang dada. Sayangnya, yang terjadi
sangat rancu: campur aduk antara ‘awal bulan’ dengan ‘awal puasa’. Dan
persoalannya menjadi merembet kemana-mana. Ada yang merasa dibodohi
karena informasinya seperti ditutupi, ada yang merasa dibodohkan karena
dianggap tidak bisa menghitung, padahal dia merasa sebagai pakar ilmu
Falak. Dan, ada pula yang tak tahu harus melakukan apa, karena serba
bingung.
Jika, kondisinya clear seperti itu, perbedaan ini
akan benar-benar membawa hikmah dan menjadi rahmat bagi umat Islam.
Setiap orang menjadi paham duduk persoalannya. Dan terserah mereka mau
memulai puasa Jum’at atau Sabtu, dengan dalilnya sendiri-sendiri.
Pertanggungjawabannya langsung kepada ilahi rabbi.
Tetapi,
kalau soal ketidak-jelasan hari Jum’at masuk Sya’ban atau Ramadan, itu
pertanggung-jawabannya adalah secara Astronomi. Dan itu berlaku untuk
seluruh penduduk Bumi, bukan hanya bagi umat Islam. Posisi Bulan tak
akan bisa ditutup-tutupi dengan cara apa pun. Karena sungguh, Bulan tak pernah berbohong. Meskipun, sayangnya, Bulan tidak bisa ngomong. Jadi YANG BOHONG siapa dong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar